May 31, 2018

Ketika Korban Pelecehan Seksual Disudutkan

Assalamualaikum, halo!

Well, ternyata terakhir kali gue aktif blog 4 tahun yang lalu. Hahaha, I was more into Tumblr but awal 2018 kemarin, Tumblr diblokir. So sad, isn't it? :(

Gak perlu panjang-panjang, kali ini gue mau bahas korban pelecehan seksual yang disudutkan. Berat ya? Tapi memang faktanya pelecehan seksual ini banyak banget, ada di sekitar kita, sadar atau nggak. Ih... serem ya? Serem banget! Makanya yuk, sama-sama kita lebih sadar dan paham lagi soal pelecehan seksual!

Latar belakang gue ingin membahas ini di blog gue adalah kasus Kak Gita Savitri yang sedang hangat dibicarakan di Instagram maupun ASKfm, kemudian gue semakin tertarik untuk bahas ini setelah melihat cerita Instagram teman gue, Annfir, yang membahas soal ini (she's so amazing that I adore her). Untuk kalian yang belum tahu ceritanya, kalian bisa cari tahu sekaligus baca klarifikasi Kak Gita di sini.

Nah, yang pertama gue bahas adalah pelecehan seksual atau sexual harassment itu sendiri. Guys, pelecehan seksual ini bukan isu main-main. Coba intip infografis yang satu ini:


Mayoritas kekerasan yang terjadi terhadap perempuan yang belum menikah adalah kekerasan seksual. Selain berdampak pada fisik, dampak yang paling parah dari kekerasan seksual yaitu dampak psikis. Kenapa gue bilang paling parah?

Ada dua jenis kekerasan yang mau gue bahas di sini, yaitu kekerasan fisik dan kekerasan non-fisik. Dalam kekerasan fisik ada sentuhan fisik antara pelaku dan korban, namun dalam kekerasan non-fisik tidak ada. Dampak fisik hanya berdampak pada korban kekerasan fisik, sementara korban kekerasan non-fisik tidak, contohnya muncul bengkak di bagian yang mengalami kekerasan. Tapi, dampak psikis dapat berdampak pada korban kekerasan fisik maupun non-fisik, contohnya mulai dari nafsu makan terganggu, trauma, hingga depresi.

Dalam kasus Kak Gita, dia mendapatkan pesan dari orang yang nggak dia kenal di Instagram yang berisi makian dan ajakan berhubungan seks. Dia bagikan cerita itu ke orang-orang. Gue yakin tujuan dia berbagi cerita kayak gitu bukan untuk minta perhatian, tapi untuk mengedukasi orang-orang serta memberi contoh nyata bahwa pelecehan seksual beneran ada dan berbagai macam jenisnya. Sedihnya, nggak semua orang merespons dengan baik. Seperti yang Kak Gita bilang, banyak orang yang berpikir bahwa itu cuma bercandaan cowok, lagipula itu cuma akun palsu. What the heck are they thinking?!

Mungkin kalian pernah tahu cerita gue soal pelecehan seksual yang gue alami di KRL bulan lalu (bisa baca beritanya di sini, terima kasih Kak Famega dari BBC Indonesia sudah meliput!) yang sempat dibagikan ribuan kali di Twitter maupun LINE. Banyak pujian yang gue dapat, tapi banyak juga makian yang gue dapat. Gue dibilang lebay, cari sensasi, dan banyak komentar yang gue baca seperti, "Pakaian mbaknya mancing kali!" Yang menyakitkannya lagi adalah banyak akun Instagram yang mempos ulang cerita gue secara nggak utuh, hanya untuk keuntungan mereka semata, sehingga makin banyak caci-maki yang gue dapat. Banyak banget kesalahpahaman sampai ada beberapa komentar warganet yang harus gue balas untuk meluruskan kesalahpahaman itu.

Pengalaman gue membuat gue sedikit paham soal perasaan Kak Gita, kenapa dia bisa marah banget soal kesalahpahaman warganet. Apalagi dia adalah korban, tapi malah disudutkan cuma karena kesalahpahaman. Salah satu komentar warganet di cerita yang nggak akan gue lupa adalah, "Baru diajakin gituan aja udah nangis, apalagi yang udah dilecehin langsung/diperkosa, Mbak!"

Guys, it really hurts, I swear. Gue tahu memang yang gue dan Kak Gita alami ini mungkin nggak seberapa dibanding korban pelecehan seksual yang dilecehkan secara langsung oleh pelakunya. Tapi, pelecehan tetaplah pelecehan. Ditambah lagi, nggak semua hati orang sekuat baja di mata kita. Apalagi nggak semua orang yang mengalami pelecehan mau berbagi ceritanya lho. Kita nggak tahu bagaimana perasaan si korban membaca komentar pedas orang-orang walau hanya berisi satu kata "lebay!", tapi kita juga nggak tahu bagaimana dampak komentar positif kita walau hanya berisi satu kata "semangat!" bagi si korban, terutama psikisnya. Pelecehan seksual itu mimpi buruk semua orang, apalagi kalau setelah mengalami pelecehan, si korban malah disudutkan. Nggak kebayang kan, perasaannya gimana? Ini ada salah satu infografis bagus tentang care giver untuk korban pelecehan seksual:


Percaya deh, kalau korban pelecehan seksual itu nggak butuh apa-apa selain dukungan, terutama dari orang-orang terdekat. Kata-kata itu hebat, bisa menguatkan seseorang tapi juga bisa menyakiti seseorang. Kenapa kita nggak memilih untuk menguatkan seseorang? Jangan sampai kata-kata kita membuat orang-orang yang menjadi korban takut berbagi ceritanya karena takut disudutkan.

Untuk kalian yang pernah mengalami pelecehan seksual, baik fisik maupun non-fisik, karena gue bukan pakar... hehehe, jadi gue berbagi tips seadanya aja ya!

Pertama, bikin diri kalian tenang terlebih dahulu. Gue masih ingat rasanya setelah mengalami kejadian nggak mengenakkan tersebut. Syok, masih nggak percaya yang tadi itu nyata atau bukan, pengen marah, pengen nangis, mual, semuanya campur-aduk. Bisa tenangin diri sendirian atau ketemu orang-orang terdekat. Waktu itu, gue langsung minta jemput orang yang gue kenal yang terdekat dari stasiun tempat gue turun dan gue dihibur sama teman-teman gue di sana.

Kedua, please, jangan salahin diri sendiri! Kalian adalah korban, kesalahan bukan ada di kalian. Kalian HEBAT!

Ketiga, ceritakan pengalaman kalian ke orang yang dipercaya. Minimal sih, ke keluarga supaya keluarga tahu apa yang baru kalian alami. Kalau butuh konsultasi lebih lanjut ke psikolog atau psikiater, coba persiapkan diri untuk cerita dengan jelas karena gue tahu kok, menceritakan ulang kejadian nggak mengenakkan itu gak gampang.

Kembali ke masalah Kak Gita dan Kak Helmi, gue sendiri juga menyayangkan cara Kak Helmi menyikapi masalah ini. Apalagi gue pengguna aktif ASKfm sejak 2013 dan gue juga mengikuti Kak Helmi sejak 2016 karena suka berbagi tips belajar bahasa Inggris.

Ketika fotonya disalahgunakan, digunakan oleh pelaku pelecehan seksual di akun palsunya, wajar kalau Kak Helmi merasa takut reputasi dan masa depannya hancur. Tapi menurut gue, alangkah bijaknya kalau Kak Helmi bantu Kak Gita untuk menyebarkan akun palsu tersebut dan bantu klarifikasi kalau Kak Helmi bukan pelakunya seperti yang orang-orang salah paham, tapi cuma fotonya yang disalahgunakan oleh pelaku, tanpa harus menyudutkan korban. Mengutip perkataan Annfir, "Because the one who should be against to is that fake account, not Gita as the victim."

Wah, ternyata panjang banget ya, tulisan gue kali ini. Hahaha... dan tentunya semua opini yang gue sampaikan di atas bersifat subjektif ya. Kalian bisa kok, diskusi seputar masalah ini di kolom komentar. Let's end sexual harassment together and thank you for reading!

No comments :

Post a Comment